Read more: http://www.tuliskan.com/2013/05/cara-membuat-emoticon-di-postingan-dan-komentar-blog.html#ixzz2az7EkKPL

Sabtu, 07 Juni 2014

jalur gunung tandikek

Gunung Tandikek, salah satu gunung yang ada di Sumatera Barat yang menarik untuk dilakukan pendakian. Gunung Tandikek memang tidak lebih tinggi dan tidak lebih populer dibanding gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Begitu juga dengan track / jalur pendakian Gunung Tandikek tidak sejelas track pendakian Gunung Marapi dan Singglang. Oleh karena itu pula tidak terlalu banyak orang yang mendaki Gunung Tandikek  Namun mendaki Gunung Tandikek mempunyai tantangan dan pesona tersendiri dibanding kedua gunung tersebut. Bahkan salah seorang warga, anak Pak Lelo  (Pak Lelo adalah juru kunci Gunung Tandikek yang telah meninggal) mengatakan hanya orang-orang tertentu (orang yang sudah berpengalaman) yang dapat mendaki Gunung Tandikek.
Akses untuk dapat menuju Gunung Tandikek, jika dari Padang kita dapat menaiki bus atau travel jurusan Padang – Bukittinggi dengan ongkos berkisar antara 15 – 20 ribu rupiah. Kemudian turun di Simpang Lubuk Mato Kuciang. Dari simpang Lubuak Mato Kuciang, kita menuju Desa Singgalang. Untuk menuju Desa Singgalang, kita dapat menggunakan angkot dengan ongkos  tiga ribu rupiah, namun angkot ini beroperasi hanya pada hari-hari tertentu, yaitu hari Jumat dan hari Senin. Namun jika pada selain hari itu, kita dapat menggunakan ojek dengan tarif enam ribu rupiah per orangnya. Ongkos yang cukup murah mengingat perjalanan dari Simpang Lubuak Mato Kuciang menuju Desa Singgalang menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit dengan track menanjak dan berliku.
Nah, di desa inilah kita melakukan registrasi pendakian. Registrasi dipungut biaya tiga ribu rupiah per orangnya. Melalui registrasi ini nama pendaki akan dicatat. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terburuk jika pendaki hilang atau belum kembali pada waktu yang ditentukan.
Di desa ini pula terdapat warung-warung penduduk dimana kita dapat membeli logistik yang masih kurang. Dari desa ini kita menuju mushola terakhir sebelum melakukan pendakian. Perjalanan dari Desa Singgalang menuju mushola terakhir membutuhkan waktu lebih kurang satu jam dengan track menanjak. Tidak perlu cemas dengan track tanjakkan ini karena tanjakkannya tidak terlalu curam, selain itu jalannya walaupun belum beraspal namu telah ada kerikil sehingga tidak terlalu sulit. Di mushola ini kita dapat menginap jika kemalaman. Dari sejarahnya, mushola ini dibangun dari partisipasi para pendaki yang menyumbang uang atau barang demi tegaknya mushola ini. Sebuah konstribusi positif tentunya dari pendaki yang selama ini imejnya sering dianggap perusak. Di dekat mushola ini pula terdapat rumah Pak Lelo, yang sekarang ini dihuni oleh anaknya. Kita juga tidak perlu takut untuk kegiatan memasak dan MCK karena di sini tersedia cukup sumber air.
Dari mushola, kita dapat melanjutkan perjalanan. Track berikutnya adalah melalui saluran air atau bandar hingga kita mencapai sebuah sungai berbatu yang cukup besar dengan lebar kurang lebih 5 meter. Di sini kita dapat beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sungai berbatu. Di sini pula kita dapat melakukan aktivitas memasak karena tersedia banyak air.
Sebelum melanjutkan perjalanan, ada baik nya kita menigisi jug/tempat air mengingat track berikutnya tidak ada sumber air sebelum kita sampai di sumber air berikutnya dengan jarak tempuh enam jam perjalanan lagi .
Track berikutnya adalah perjalanan menajak yang terus menerus tanpa ada ”bonus”/jalan datar. Kemiringan mencapai empat puluh lima derajat. Di track inilah kekuatan fisik dan mental benar-benar di uji. Biasanya para pendaki sering melakukan istirahat sejenak pada track ini guna mengembalikan kekuatan.
Setelah perjuangan yang cukup keras sampailah kita di sumber air. Di sini sering dijadikan area camp bagi para pendaki karena letaknya yang dekat dengan sumber air. Area ini mempunyai kontur/bidang yang cukup datar sehingga dapat mendirikan tenda. Namun di area camp ini kita hanya dapat mendirikan maksimal hingga tiga tenda mengingat bidangnya datarnya yang tidak terlalu luas. Sedangkan sumber air berada di sisi kanan. Untuk mencapai sumber air kita perlu turun ke bawah dengan ketinggian kurang lebih sepuluh meter. Namun, air yang mengalir di sumber air ini relatif kecil, sehingga kesabaran kita cukup diuji dengan menungu botol air terisi penuh. Area ini juga sering dijadikan para pendaki sebagai tempat bermalam. Di sini juga banyak terdapat ranting dan dahan pohon yang sudah mati yang cocok untuk dijadikan api unggun.
Dari camp area ini untuk mencapai puncak diperlukan waktu kurang lebih dua jam perjalan lagi dengan track yang mempunyai kemiringan kurang lebih empat puluh lima derajat. Setelah menempuh track tersebut barulah kita sampai di Puncak Gunung Tandikek. Mencapai puncak gunung merupakan sebuah kenikmatan bagi para pendaki. Namun kenikmatan tidak sampai di sini saja, kita masih dapat menikmati kawah Gunung Tandikek yang suara kawahnya membahana seolah-olah menyambut kedatangan kita. Kawah ini berada kurang lebih lima puluh meter di bawah puncak. Untuk menuju ke kawah ini kita harus sangat berhati-hati karena kemiringan mencapai enam puluh derjat, dengan tanah khas cadas yang rapuh. Setelah lima belas menit perjalanan menurun dari puncak barulah kita sampai di kawah gunung tandikek. Di sinilah kita merasakan sebuah kenikmatan baru. Kawah Tandikek berkontur datar berbentuk sumur, dimana sekeliling kawah ini kita dapat melihat kawah-kawah kecil dengan diameter 10 – 30 sentimeter yang mengeluarkan asap belerang. Para pendaki sering juga mengambil belerang yang berwarna kuning ini untuk kenang-kenangan ataupun untuk obat, yang katanya berkhasiat untuk memuluskan kulit muka.
Kawah yang datar berbentuk bundar ini berdiameter kurang lebih lima puluh meter. Masih ada yang menarik dari kawah ini, yaitu terdapat sebuah gua. Konon, pernah ada orang bule yang pernah mencoba menelusuri gua ini, namun tidak pernah kembali lagi. Di gua ini kita dapat beristirahat dan melakukan kegiatan memasak, karena di kawah ini juga terdapat sumber air.
(1085 pengunjung)

Selasa, 18 Februari 2014

Pendakian Gn.Kerinci







Hai tim, apa kabar ??

My adventureeeee sekarang gunung kerinciiiiii :D

Kali ini pendakian di lakoni rekan-rekan saya yang biasa, nizar, ramli dan saya ,,oh iya satu lagi :D anggota baruuuu ==> kak yulia alias kak aya ,,hai kak salam kenal,(jiahahahahaa :D) kami juga baru kenal sih sama nih orang, kenal dari twitter, pas ketemu anak nya asik cpat akrab juga :D dan jadilah kami petualangan kali ini 4 orang :D

Perjalanan di mulai dengan nekat, karna belum satupun diantara kami yang pernah ke gunung kerinci :D ok fine,,, :)

31 januari 2014 :)
 
19.00 WIB, kami berkumpul di bandar buat padang, untuk pertama kali ketemu kak aya, salaman basa basi dikit dan josss nyambung pemirsaaaa :D sambil ngobrol ngobrol trus saya mratiin carriernya dia, buseeet gede amaat bro, jauh di banding punya saya, tapi gapapa sesuaikan dengan badan dong :D
20.20 WIB, bus yang sudah kami pesan akhirnya datang juga, carrier di masukkan dan kami juga di masukkan,*eh masuk sendiri maksudnya J perjalanan ke gresik tuo di mulai dengan tawa renyah-diemdieman-tidurtiduran-tidur beneran-mual-dan campuuur aduk lah, bus nya bauu di tambah sopirnya gokil bwa mobil kyak bawa bajaj aja :D bum buuuum dan saya tertidur pulas entah apa yang terjadi saya tidak tau.
1 februari 2014  J

03.00 WIB, dini hari coooooy saya terbangun (dibangunkan hehe) katanya udah nyampe gresik tuo :D waaah akhirnya, pas turuuun langsung di sambut tugu macaaan :D 


gila coy, yang selama ini saya liat di internett sekarang ada di depaaan mataa :D waw (lebay). Liat tugu macan kami langsung berhamburan ke sana foto foto duluuu :D pas lg seneng seneng nya nizar manjat ke atas tugu, saya ikutan naik juga di bantuin nizar, eh kak aya mau ikutan juga pas di tarik nizar entah apa,entah kenaapa (mungkin kak aya terlalu berat kalii ya, pisss kak. Hehehe) tarikan nizar lepas dan bruukkk kak aya jatuh kira kira tinggi 2 meter, lumayan tinggi lho :D nizar jatuh juga sih, tp dia kan cwo tinggi pula jdi ga masalah. Kembali ke kak aya J dia kesakitan dan saya masih diatas tugu ga bisa turun ga bisa nolongin ga biisa panik (eh panikkk berat maksudnya) ya sudah jadilah ramli dan nizar yang bantuin, kasiiian sih liat kak aya pas jatoh, bunyinya aja ngeri apalagi sakitnya tuh.
 10 menit kemudian kak aya mulai tenang mulai bediri lagi, dan pinggangnya bermasalah. Katanya InsyaAllah masih bisa nanjak, ya sudah untuk penghibur pinggang kak aya yang sakit dia di tawari naik tugu macan lagi, kali ini dengan 2 orang personil ramli dan nizar J yihaaaa kak aya sampai juga dii macannya, *eh di tugu macan J dan diia foto foto sama macan. Lah saya ? perasaan saya yang tadi dluan naik belum ada foto foto deh, ya sudahlah saya sudah terlanjur turuuun.
 Oke, lanjuut lagi track awal simpang tugu macan menuju R-10 tempat pelaporan, kira2 jalan 1 jam kurang kami sampai di sana dan tidak ada penjaga, kami memutuskan untuk istirahat sambil menunggu penjaga pos, kak aya tidur, ramli tidur, saya tidur tiduran, nizar duduk J
 
06.00 WIB, penjaga belum juga datang, dingiiiin bro :D masih nunggu pak penjaga pos, beliau tak kunjung datang L
07.00 WIB, belum datang juga, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa melapor terlebih dahulu.


 Sekarang menuju pintu rimboooo, di perjalanan kami temui ladang pertanian penduduk, 1 jam berjalan kami sampai di track awal pendakian, pintu rimboo.


 Lanjut lagi J kaki kami masih semangat melangkah, kecuali kak aya yang lumayan kesakitan J hahahahhaa, pisss kak J
 
08.43 WIB kami sampai di pos 1 istirahat sebentar dan mencari sumber air, hasilnya nihiiil L padahal sudah lapaaar pemirsa L karna air tidak ada dan persediaan air kami juga tidak ada maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan perut keroncongan J (senyum terpaksa). 
10.30 WIB kami sampai di pos 2, buru buru cari air dan kami dapat air di sisi kiri pos 2. Langsung tancap dan saatnya masak masaaak :D koki baruuu kami “kak aya” hehehee. Ayooo kak, semangaaat, sini na bantuiiin J heheee. Kali ini baru terasa menikmati perjalanan nya, kami jalan santai nikmatii alam, hijau, oksigeeen. Stelah selesai masak, kami makan, foto foto dan ketemu pendaki lainnya, rombongan dari bukittinggi kebetulan kenal sama kak aya dan akhirnya kami gabung :D (samasamaperdana).
 Lanjut lagiiii tanjakan udah mulai melawaaan bro, kaki mulai nyerah, apalagi kak aya, pinggang nyaaa itu lho :D (ma’af kak) hehe, tanjakan terasa peluh terasa body pack terasa (nah lo terasa apaaa na, hehe) masiiih lanjut masih tanjakan, pos 3 belum menampakkan wujudnya. Ngos ngosan bro, tapi tenaaang saya udh jogging jadi ga kayak singgalang dulu, energi masih lumayan J
Jam 12.45 WIB kami sampai di pos 3, istirahat dulu, sekalian sholat zhuhur, tapiii sayang kami tidak sempat mengambil foto di sini... karna badan udah letoy bro, kaki udh ngos ngos an, eh nafas maksudnya :D 
 setelah istirahat dan sholat kami lanjut lagi, sekarang anggota kami 7 orang, dapat tambahan anggota di pos 2 tadi 3 orang yaitu bg kutaik, bg tajik, bg amaik :D namanya keren keren yah J sesuatu banget, hahahaa.
Kak aya kayak orang mau ko’id gituu mukanya :D hahhaa, pinggang sakit, carrier berat, untung ada nizar yang bantuin nanjak, ada saya juga (kepedean). Bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian, yasudah nikmati saja perjalanan kita, Tim J (sia yang nyuruah mandaaaki). Oh shelter 1 dimanakah engkaaau L tanjakan mu itu lho, parah !! go go go go TIM, semangaaaat 3805 mdpl menunggu kita :D

16.00 WIB kami sampai di shelter 1 dirikan tenda, keluarkan jaket, dan duduk didalamnya, hangatkan badan dengan kopi panas, huuuah dingin bro. Dsini kami camp dulu, besok baru lanjut perjalanan karna kami memutuskan untuk tidak berjalan pada malam harii. Setelah magrib suhu makiin dingin, waktunya pasang jaket, seleeping dan atribut lainnya. Dan gooo ‘ngorok’ !!

02 februari 2014  J
Pagiii dunia J pagi uda ramli, nizarrr, dan pagiii kak aya J gimana pinggangnya ? makin parah atau makin ga bisa jalan ? (lho, sama ajaaa itu naa). Waktu nya masak, sarapan, packing dan mooooove lanjut bro !!
10.00 WIB kami berangkat dari shelter 1 menuju shelter berikut berikutnya, dan tahukah andaaa ? tracknya membunuh *lebay. Tapi iya sih, tracknya ngeriii tinggi tinggi bro, lebih tinggi dari saya malahan, kalo ga pecaya liat deh foto saya :D  ni..

udah udah makin ngelantur, nikmatiii saja, sesekali kami istirahat, sering sih istirahatnya, apalagi kak aya :D hahhaa :D
12.30 WIB kami sampai di shelter 2 istirahat dulu sambil cari air, dan masak minum dulu, tambahan energi, setelah istirahat dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan (resmi banget bahasany :D) dari shelter 2 ke shelter 3 ini ternyata tracknya luar biasa, ganassss !! ini ga lebay tapi fakta, ampuuun....liat ni fotonya.. J


Kak aya aja ketinggalan jauuuh hahahhaa (sok bana adeen ko yo) tetap semangaaat apapun keadaannya, ayooo geeenk kita harus bisaaa. Saya duluan sama ramli, sambil nyorakin kak aya di belakang, “kaaaaak, shelter 3 nih (bohong) J. “kalo naaa bohong push up yaa 1 seri”, di jawab juga sama dia, hehe. “iyaaa kak, ayooo cepetan ini shelter 3”, saya bohong pemirsa. Tapi gapapa itu ampuh ternyata, kak aya jalan nya makin cepet kalo di bohongon. Huuuhaaaaaaaah akhirnyaaaaa shelter 3 J

16.31 WIB kami sampai di shelter 3 J udh soree ternyata, sementara mereka mendirikan tenda, saya dan kak aya menyibukkan diri dengan foto fotooo, harus ituuuu :D  dan kami dapaat sunset bro, tapi dinginnya luar biasa L setelah tenda berdiri gagah melawan angin badai, kami masuk, masak, daaaan ngobrol, lanjuuut lagi “ngooorok” hehehehee.

3 februari 2014 
Kira kira jam 06.00 WIB kami banguuun, waaah beda jauh dari pendaki pendaki pada umumnya, orang lain bangun pagi shubuh buat nanjak ke puncak, kalo kami tunggu matahari nongol dulu baru ke puncak, penyebabnya adalah, kami ga tau jaluuur ke puncak, hahahaha :D tambah lagi kak aya belum begitu pulih,,,
makanya tunggu bantuan matahari dulu J kira kira jam 10.30 WIB kami mulai perjalanan ke puncak, heeei summit attack J I like it, tapi tidak bagi kak aya, berhubung pinggang nya sakit jadi ini sungguh sungguh menyakit kan, *hooooow lebay :D tapi beneran, kak aya kayak ga kuat gitu, bukan karna fisiknya, tapi karna insident di tugu macaaan, hampiiir nyerah dia, ga ada yang boleh nyerah kalo udh sejauh ini, kita mulai sama sama dan kita di puncak sama sama, kita luar biasaaa J ok, kak aya ga jadi nyerah, jalurnya mantap naik 2 langkah turun 1 langkah dan itu sangat melelahkan, kawan.


 Matahari udah mulai tinggi kami tetap jalan pelan pelan dan santai, akhirnya sampai di tugu yudha, tugu untuk menghormati pendaki dari jakarta yang hilang dsana, entah kemana perginya beliau, itu lah misteri gunung tidak ada yang tau apa yang akan terjadi, dan apa takdir kita disaana, sejenak kami berhenti disana dan berfoto.

Setelah itu kami lanjut lagi, kira kira jam 1 kami sampai di puncak, ternyata puncak kerinci ga kayak yang saya bayangin, di puncak Cuma ada 2, dataran selebar 1 meter lebih dan panjang berapa ya ? lumayan panjang sih, setelah itu Cuma ada kawaaah men, kawaaaah. Gila tu kawah kegedeaaan bro, dalem pula, puncaknya ibarat 90% terdiri darii kawah, kaki saya mulai disko L takuuuut soalnya hampir jatoh ke kawah. Kalo sempat jatoh entah lah, mungkin ga sempat nulis ini.


Ok, sekarang foto foto sepuasnya (ga puas sih, soalnya kapten udh nyuruh turun, kabut) ehmmmm padahal masih pengen lama lama di puncak, tapi gapapa sekarang waktunya turun, turunnya enaaak, seluncuran kayak main sky :D sayang, kak aya ga bisa nikmatin karna pingggangnya sakiiit, seruuu. Sempat salah jalur juga pas turun, wuuuih lengkap ya harii ini. Sampai lupa jam berapa kami tiba di puncak dan jam berapa kami turun. Tiba ditenda kami langsung packing karna mau pindah camp di shelter 2, soalnya di shelter 3 badaaai L yasudaaaah kami pindah ke shelter 2. Perjalanan ke shelter 2 ini sungguh menyiksa, bukan buat kak aya, tapi buat sayaaaaa, saya ga sukaa turun gunung, kaki ini ga mau kompromi, tiap turun dia diskooo, iiihhhh L akhirnya sebelum malam alias sore sebelum magrib kami sampai di shelter 2 dan tenda kembali didirikan, sayaaa ? tepaaar, kepala sakit, ga kuat lagiii, untung ada kak aya, ya sudaaah saya tiduuur sampai pagi :D
4 februari 2014
Pagiiii semuaaa, masih dengan badan kurang fit L tapi its okkk J hariii ini kita memutuskan untuk turun, karna udh pada tepaaar. Sore kami sampai di bawah dan numpang nginap di basecamp nya @jelajah kerinci. Makasih yaaa sambutannya J
 
5 februari 2014

Pagiii lagi J hari ini kami mau pulang ke padaaang, tapi sempetin dulu foto foto di kebun teh dan tugu macaaaan (lagi) J
“Kitaaa luuuuar biasa kawan J bangga bisa berada disini bersama mereka, sahabat sahabat tercintaaa J I LOVE U ALL.”
JANGAN TANYAKAN KENAPA KAMI MENDAKI GUNUNG, MENIKMATI ALAM. KARENA KAMI TAK TAHU KENAPA DAN MENGAPA, JIKA MAU TANYAKAN SAJA PADA HATI KAMI J JIKA KAU TAK TEMUKAN JAWABAN, AYO BERGABUNG BERSAMA KAMI DAN KAMI BERIKAN KAU JAWABAN DARI ATAS SANA, NEGRI DI ATAS AWAN.
“TERIMAKASIH 3805 METER DI ATAS PERMUKAAN LAUT, BADAI MU MENGHANYUTKAN KU BERSAMA MEREKA, SANG SAHABAT YANG SETIA MENEMANI LANGKAH LANGKAH KECIL KU” J.

BY : Novia harlina ( Lina )

Jumat, 14 Februari 2014

jalur singgalang

Bagi saudara ku yang berminat dan ingin melakukan pendakian ke gunung singgalang dan belum mengetahui jalur gunung singgalag, saya harap posting ini bisa membantu walau tidak begitu sempurna..

Jalur umum pendakian ini bisa dimulai dari daerah koto baru-padang panjang-sumbar-indonesia

         Jika saudara berangkat menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan dari koto baru ke towar rcti dapat dilakukan pagi hari dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit. Namun bila saudara berangkat dengan ankutan umum, saya sarankan berjalan malam dari koto baru ke tower tersebut karena jalur yang ditempuh adalah jalan beraspal dan tanjakan, waktu tempuh sekitar 3-3,5 jam jalan kaki.

          Di tower ini saudara bisa beristirahat menunggu pagi datang di sebuah bangunan yang biasanya digunakan untuk penitipan kendaraan (sepeda motor). Namun saudara juga harus tau di tempat ini dilarang mendirikan tenda kecuali diluar bangunan.

          Perjalanan bisa dilanjutkan dengan melewati hutan tumbuhan berjenis Bambu yang sering disebut "batang parupuak". Dijalur ini saudara sedikit akan disulitkan dengan batang-batang parupuak yang merintangi jalan sehingga saudara harus merangkak melewatinya.

          Setelah melewati jalur parupuak, saudara akan menemui salter 1 dimana sumber air pertama yang akan saudara temukan. Sumber air berada di sebelah kiri jalan dan agak menuruni jurang, karena itu saudara diminta sedikit hati-hati.

          Sekitas 45 - 50 menit perjalanan, saudara akan menemui salter 2 yaitu sumber air ke-dua yang bisa saudara temui.

          Sekitas 45 menit perjalanan lagi, saudara akan menemui salter 3 yaitu sumber air ke-tiga yang bisa saudara temui.
          Untuk mencapai cadas, saudara akan menghabiskan waktu 50 menit lagi. disepanjang perjalanan ke cadas tersebut saudara akan menemui tumbuhan lumut yang sangat subur. dari cadas ke telaga dewi saudara akan membutuhkan waktu tempuh 30 menit.

          Dari telaga dewi saudara bisa melihat puncak tertinggi di gunung singgalang, tergantung saudara ingin lanjut atau tidak, waktu tempuh ke puncak sekitar 30-50 menit perjalanan.

           Selamt berkunjung ke wisata alam gunung Singgalang, saya doakan Saudara selalu selamat hingga tujuan.

kekuatan keyakinan

Rabu, 06 November 2013

Pendakian ke merapi Tgl 17 Agustus 2013















Persiapan pendakian di simpang bandar buat sekitar jam 9 pagi...

          Perjalanan kami mulai tgl 15 agustus 2013,

    Kami menggunakan angkutan umum untuk berangkat menuju padang panjang,, berangkat jam 10.00 wib dari simpang bandar buat (padang) dan sampai di padang panjang sekitar jam 13.00 wib.












      Sekitar jam 14.00 kami melanjutkan perjalanan ke pos 1 ( pos pelaporan para pendaki ) dengan berjalan kaki yang menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam. Dengan langkah santai kami sampai di Pos 1 sekitar jam 15.00. Setelah memenuhi beberapa syarat pendakian, kami langsung bergerak menuju KM 2 yang sering disebut lantai 2 atau "parak batuang". Menjelang sampai di KM 2 kami mengambil perbekalan air di sebuah mata air yang dinamai para pendaki dengan "sumur kodok".
       Untuk menghindari perjalanan malam, kami mendirikan tenda di KM 2 tersebut dan memasak makanan buat makan malam.


      Paginya tgl 16 agustus sekitar jam 08.30 wib kami mempersiapkan sarapan pagi untuk suply tenaga buat melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 09.00 kami melanjutkan perjalanan..














Kamis, 12 September 2013

Beragam Kisah Mistik Pendaki Gunung Semeru


SETIAP orang yang mendaki Gunung Semeru pasti menyisakan beragam cerita tentang eksotisnya gunung tertinggi di Jawa ini. Rasanya, berbagai bukti foto-foto selama perjalanan hingga ke puncak belum memuaskan saat mengunjungi gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia ini.

Selain cerita keindahan alam Semeru, beberapa pendaki juga punya pengalaman lain yang tidak semua pendaki mengalaminya, yakni pengalaman tentang ‘dunia lain’ di Semeru. Cerita ini dikisahkan langsung oleh pendaki maupun orang yang menemukan pendaki ketika tersesat.

Salah satunya dialami Bagus Ary, seorang pendaki asal Malang, Jawa Timur. Pendaki yang sudah beberapa kali mendaki Semeru ini mengungkapkan, sekira 2009 dirinya bersama tiga temannya mendaki ke Semeru. Target pertama mereka adalah menginap di Kalimati.

Selama perjalanan dari Ranu Pane menuju Kalimati, mereka melewati Oro-Oro ombo dan Cemoro Kandang. Di Cemoro Kandang, medan memang terus menanjak hingga Jambangan. Mungkin untuk menghilangkan capek dan agar tidak terlalu merasakan lelah, keempat pendaki ini sering mengeluarkan kata-kata kotor khas Jawa Timur-an, atau misuh-misuh meski dengan nada gurau. Tak terasa memang, perjalanan mereka akhirnya sampai di Kalimati yang berada di ketinggian 2.700 mdpl.

Kawasan yang berupa padang savana berada di tepi hutan pinus dengan latar puncak Mahameru ini membuat para pendaki betah mendirikan tenda di sini. Keempat pendaki ini kemudian berencana naik ke puncak pada malam hari sekira pukul 00.00 WIB. Mereka kemudian bergegas mendirikan tenda, sebagian lagi mengeluarkan bekal untuk masak menu sore dan logistik untuk dibawa dalam perjalanan menuju puncak.

Sore menjelang, mentari sudah mulai tenggelam dengan meninggalkan mega merah di langit barat. Tak berselang lama, pemandangan berganti keindahan alam semesta dengan kerlap-kerlip berjuta-juta bintang di angkasa, lengkap dengan bulan yang nampak belum penuh.

Mereka kemudian memilih istirahat lebih awal untuk menyimpan energi menuju puncak pada tengah malam nanti. Tanpa dikomando, keempatnya kemudian terlelap dalam tidur. Di sinilah mulai peristiwa aneh itu terjadi.

Bagus bercerita jika tidurnya tidak bisa tenang, pun demikian dirasakan teman-temannya. Ia dan teman-temannya mengaku beberapa kali seperti ditarik oleh seseorang sampai terbangun. Awalnya, mereka mengira itu perbuatan temannya sendiri, tapi setelah masing-masing merasakan hal yang sama dan mengaku tidak melakukanya, akhirnya mereka sadar ada makhluk  lain yang menariknya ketika tidur.

Pengalaman Bagus dan teman-temannya tidak berhenti di situ, Bagus juga diketoki atau melihat sebuah bangunan mirip pemandian putri di kawasan bawah Arcpadha, tepatnya di jurang sebelah kiri kalau dari arah atas. Mereka masih bersyukur tidak terjadi peristiwa yang lebih menyeramkan atau membuat mereka tersesat.

Pada pendakian selanjutnya, Bagus selalu mengingatkan rekan lain agar selalu menjaga perkataan dan perilaku selama pendakian, berbicara sopan, tidak pongah, serta tidak merusak tempat-tepat atau menebang pohon sembarangan. Sebab, siapa tahu di tempat-tempat tertentu terdapat makhluk lain ciptaan Tuhan.

Jumat, 06 September 2013

Jalur Pendakian Gunung Kerinci



Pendakian ke Puncak Kerinci memerlukan waktu dua hari melalui medan cukup berat. Apabila Anda ingin mendaki ke Gunung Kerinci maka wajib melapor sebelumnya ke Taman Nasional Kerinci Seblat di Sungai Penuh. Tentunya Anda juga perlu dengan cermat membawa perlengkapan pendakian dan persiapan fisik yang prima.

Pendakian dimulai dari Pos Kersik Tuo di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro. Kemudian menuju pos penjagaan TNKS atau R10 dengan melewati perkebunan teh sekitar 45 menit. Di pos R10 semua pendaki akan didata untuk memastikan jumlah pendaki. Dari R10 menuju kePintu Rimba waktu tempuhnya sekira 1 jam perjalanan dengan jalur beraspal. Di sini Anda dapat menemukan endapan air yang berasal dari air hujan.






Pos selanjutnya adalah Pos Bangku Panjang berjarak sekitar 2 km dari pos sebelumnya. Jalurnya sedikit landai karena merupakan kawasan hutan heterogen. Di pos ini Ada dua buah shelter untuk beristirahat. Dari sini menuju pos Batu Lumut membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit.




Berikutnya menuju Pos 1 sekitar 1,5 jam sekitar 2 km dengan medan terjal kemiringan hingga 60 derajat. Di sini ada sebuah pondok untuk istirahat. Untuk menuju Pos 2 dibutuhkan waktu sekitar 2 jam menempuh jarak sekitar 3 km dengan medan landai, di sini juga ada sebuah pondok. Pos 3 berjarak sekitar 2 km, pendakian menuju pos ini memakan waktu sekitar 3 jam.




Di Pos 3 Anda dapat mendirikan tenda untuk bermalam sebelum melanjutkan pendakian esok harinya. Menuju Pos 4 memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan jarak tempuh sekitar 1,5 km dan pos ini merupakan pos terakhir sebelum menuju puncak Gunung Kerinci.




Saat Anda tiba di puncaknya maka pastinya kepuasan batin akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Saksikanlah bentangan pemandangan yang menakjubkan. Anda akan melihatkawah Gunung Kerinci, lanskap Kota Jambi, Padang, Bengkulu, Danau Kerinci, danDanau Gunung Tujuh. Nampak pula Samudera Hindia yang membentang indah serta hamparan hutan yang luas dan perkebunan teh berwarna hijau.



Slamat mencoba ..... :)

Minggu, 04 Agustus 2013

tips pendakian bagi pemula

Mendaki gunung bisa dikatakan sebuah wisata, olahraga, penghilang stres, atau bahkan menantang maut. Namun, aktivitas yang berbahaya tersebut ternyata semakin digemari pemuda Indonesia. Banyak resiko yang akan dialami pendaki karena berada di ketinggian dengan udara dingin, trek jalan yang seringkali tidak bersahabat, cuaca, jalan sesat, dan incaran binatang buas. Nah, untuk meminimalkan resiko tersebut pendaki perlu persiapan matang. Berikut ini beberapa tips yang diperlukan untuk pendaki gunung.
  • Periksa kesehatan. Pastikan Anda dalam keadaan sehat sebelum memulai pendakian. Hal ini jarang sekali dilakukan oleh pendaki namun sejatinya sangat penting.
  • Menggunakan pakaian yang sesuai. Pertama harus mengenakan pakaian tebal dan mantel. Kedua, gunakan alas kali yang kedap air khusus untuk pendaki. Jangan sampai Anda menggunakan sandal jepit atau sepatu biasa bila tidak ingin kaki terluka. Ketiga, pakai sarung tangan bila tidak ingin tangan Anda hancur.
  • Bawa bekal makanan yang cukup karena mendaki gunung memerlukan banyak tenaga. Yang paling penting adalah membawa persediaan air putih. Usahakan jangan minum minuman yang lain karena air putih adalah minuman terbaik bagi pendaki. Bila perlu, bawa cairan dextrose yang mengandung glukosa tinggi untuk mengembalikan energi secepat mungkin.
  • Bawa P3K karena selama diperjalanan akan banyak ranting, batu, atau serangan hewan yang akan melukai Anda. Isi P3K tersebut minimal adalah antiseptik, perban, antibiotik, kortikosteroid, penurun panas, dan penghangat badan.
  • Jangan lupakan kompas dan senter. Dua alat ini sangat dibutuhkan untuk petunjuk arah saat Anda tersesat atau ingin sholat. Anda juga dianjurkan membawa alat komunikasi dan pastikan batunya terisi penuh.
  • Pelajari cuaca. Cuaca sangat menentukan lancar tidaknya pendakian Anda. Oleh karena itu, pastikan Anda mendaki gunung saat musim panas, bukan musim hujan atau berkabut.

Selamat mencoba... big grin

Sabtu, 27 Juli 2013

PENGALAMAN MENDAKI



Awal perjalanan pendakian dari Koto Baru,kita bisa menempuh jalan beraspal hingga pos 1, yaitu pos tempat pelaporan anggota dan brapa lama kita melakukan pendakian..
kami sampai di pos 1 sekitar jam 6 lewat,(Magrib) namun menimbang tempat shalat tidak ada, kami melanjutkan perjalanan..
Kami sampai di lantai 2( parak batuang ) sekitar jam 7 lewat, sehiungga kami memutuskan untuk Camp awal disini ( shalat magrib dan isya )..
Paginya kami memasak sarapan untuk suply tenaga buat melanjutkan pendakian..
sekitar jam 11 setelah perut terisi,,kami memulai perjalanan dengan jalur yang sudah sedikit menanjak..
seperempat perjalanan kami sampai di kilometer empat, kami beristirahat sejenak untuk memulihkan kembali tenaga yang telah terpakai..
setelah capek reda..kami melanjutkan perjalanan yang dah mulai banyak tanjakan dan menguras tenaga,,
Setengah perjalanan kami bertemu jalur yang bagian atasnya tertutup semak sehingga berbentuk lubang panjang ( panjang lubang sekitar 12-15 m ) yang disebut orang-orang dengan sebutan "lubang mancik" .. Pada jalur ini kita juga bisa memilih lewat jalur atasnya jika kita tidak mau atau tidak muat lewat lubang ini..
tiga perempat perjalanan kami bertemu dengan jalur yang berbatu yang dipenuhi tumbuhan lumut halus.. Daerah ini sering disebut "batu lumuik" oleh para pendaki..
Tiinggal seperempat perjalanan lagi menuju cadas kami bertemu yang namanya pintu angin,,disini kita sudah dapat melihat puncak gunung singgalang yang berhadapan dengan gunung merapi secara jelas..disini juga tempat pengambilan air buat bekal berkemah di cadas,,
Sekitar jam 4 sore kami sampai di cadas dan kami mendirikan tenda untuk beristirahat malamnya..
Sekitar jam 7 kami menyiapkan menu makan malam,,setelah setengah hari perjalanan yang menguras tenaga, tentu saja mengundang rasa lapar...
jam 6 pagi kami melanjutkan tujuan ke puncak dengan suhu yang sangat dingin,,namun karna rasa ingin sampai ke puncak itu sangat besar, rasa dingin bisa dilawan...
Setelah sampai di tugu Alber kami sudah dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah... Gunung singgalang begitu jelas,,
Tujuan pertama ke merapi adalah menginjakkan kaki di puncak MARPATI yang merupakan puncak tertinggi di gunung merapi tersebut..












 Sekitar jam 3 sore kami berkemas dan berangkat pulang,,walau perasaan senang oleh pemandangan yang indah menahan hati untuk tetap di puncak,,namun persediaan logis menghukum kami untuk harus pulang,,, Selamat bertemu lagi merapi :)
Read more: http://www.tuliskan.com/2013/05/cara-membuat-emoticon-di-postingan-dan-komentar-blog.html#ixzz2az7VwfQQ